Awalnya hanya
sebuah kertas putih. Lalu ku goreskan tinta dan ku tuliskan banyak visi hidup
yang ingin ku raih. Sederet mimpiku dari awal aku menjadi mahasiswa dan impian
di masa depanku. Hingga terbentuk banyak mimpi, yang menurutku sebagian sulit untuk
ku raih.
Kini aku
memasuki tingkat akhir. Bisa dibilang mahasiswa tingkat akhir. Mahasiswa yang
kini hanya berkutat dengan “pak hijau” alias skripsi.. skripsi.. dan skripsi.
Cerita baru tentang penelitianku segera dimulai (insya Allah).
Namun, tadi sempat
aku merenung. Sudah 3 tahun aku menapaki dunia perkuliahan tapi hingga saat ini
mimpi-mimpiku satu persatu kandas. Hanya sebatas angan belaka, hanya sebuah
mimpi kosong, hanya sebuah kertas yang dipenuhi goresan tinta tanpa menjadi
realita.
Banyak mimpi
yang ingin ku raih saat aku masih menduduki dunia perkuliahan. Impianku menjadi
asisten dosen, asisten praktikum, ikut penelitian dosen, beasiswa dan impian
lainnya. Intinya ingin sekali banyak prestasi yang ingin ku raih.
Aku
bertanya-tanya mungkinkah dari usahaku yang kurang? Atau memang belum
rejekinya? Tapi kenapa, apakah aku belum diperbolehkan untuk mewujudkan
impian-impian itu? Belum diperbolehkan merasakannya? Atau belum saatnya?
Setiap anak
pasti mempunyai mimpi bisa membahagiakan orang tuanya. Hingga saat ini, sudah
memasuki bulan terakhir di tahun 2013 belum ada impian yang bisa aku raih. Speechless gak tau harus berkata apa ke
orang tua hanya bisa terucap “MAAFkan aku mamah, papah”. Aku belum bisa membuat
kalian senang, bangga, atau apapun perasaan kegembiraan itu.
Anak tangga
yang ku tapaki satu persatu ternyata masih jauh dari puncak. Aku masih berjalan
tertatih, proses yang banyak ku lalui namun tak kunjung membuahkan hasil. Sebuah
prestasi, sebuah kebahagiaan yang (mungkin) akan didapatkan ketika aku berada
di puncak.
Dan ketika
bertemu di penghujung tahun ini, akupun bertanya-tanya mungkinkah aku masih ada
di tempat yang sama?
Aku iri
dengan kalian yang sampai saat ini sudah banyak mimpi yang bisa kalian raih. Aku
iri, sangat iri. Berbahagialah kalian yang sudah berhasil menangkap mimpi
kalian. Aku salut !
Namun aku
sadar, Tuhan membenci makhluk yang mempunyai sifat seperti itu. Aku ingin
terbebas dari belenggu pikiran itu. Aku ingin membuktikan kalau aku juga bisa meraih
mimpi di genggaman tanganku. Yah, semangatku kian memudar, Tuhan tolonglah aku.
Saat ini, aku hanya ingin mencari pendengar baik.