12/02/2013

Mimpi yang Terbawa Angin

Awalnya hanya sebuah kertas putih. Lalu ku goreskan tinta dan ku tuliskan banyak visi hidup yang ingin ku raih. Sederet mimpiku dari awal aku menjadi mahasiswa dan impian di masa depanku. Hingga terbentuk banyak mimpi, yang menurutku sebagian sulit untuk ku raih.

Kini aku memasuki tingkat akhir. Bisa dibilang mahasiswa tingkat akhir. Mahasiswa yang kini hanya berkutat dengan “pak hijau” alias skripsi.. skripsi.. dan skripsi. Cerita baru tentang penelitianku segera dimulai (insya Allah).

Namun, tadi sempat aku merenung. Sudah 3 tahun aku menapaki dunia perkuliahan tapi hingga saat ini mimpi-mimpiku satu persatu kandas. Hanya sebatas angan belaka, hanya sebuah mimpi kosong, hanya sebuah kertas yang dipenuhi goresan tinta tanpa menjadi realita.

Banyak mimpi yang ingin ku raih saat aku masih menduduki dunia perkuliahan. Impianku menjadi asisten dosen, asisten praktikum, ikut penelitian dosen, beasiswa dan impian lainnya. Intinya ingin sekali banyak prestasi yang ingin ku raih.

Aku bertanya-tanya mungkinkah dari usahaku yang kurang? Atau memang belum rejekinya? Tapi kenapa, apakah aku belum diperbolehkan untuk mewujudkan impian-impian itu? Belum diperbolehkan merasakannya? Atau belum saatnya?

Setiap anak pasti mempunyai mimpi bisa membahagiakan orang tuanya. Hingga saat ini, sudah memasuki bulan terakhir di tahun 2013 belum ada impian yang bisa aku raih. Speechless gak tau harus berkata apa ke orang tua hanya bisa terucap “MAAFkan aku mamah, papah”. Aku belum bisa membuat kalian senang, bangga, atau apapun perasaan kegembiraan itu.

Anak tangga yang ku tapaki satu persatu ternyata masih jauh dari puncak. Aku masih berjalan tertatih, proses yang banyak ku lalui namun tak kunjung membuahkan hasil. Sebuah prestasi, sebuah kebahagiaan yang (mungkin) akan didapatkan ketika aku berada di puncak.

Dan ketika bertemu di penghujung tahun ini, akupun bertanya-tanya mungkinkah aku masih ada di tempat yang sama?

Aku iri dengan kalian yang sampai saat ini sudah banyak mimpi yang bisa kalian raih. Aku iri, sangat iri. Berbahagialah kalian yang sudah berhasil menangkap mimpi kalian. Aku salut !

Namun aku sadar, Tuhan membenci makhluk yang mempunyai sifat seperti itu. Aku ingin terbebas dari belenggu pikiran itu. Aku ingin membuktikan kalau aku juga bisa meraih mimpi di genggaman tanganku. Yah, semangatku kian memudar, Tuhan tolonglah aku. Saat ini, aku hanya ingin mencari pendengar baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar