Siapa
hendak turun, ke Bandung, Surabaya, bolehkah naik dengan percuma…”
Petikan
lagu yang sering didengarkan ketika kita masih kecil.
Kali ini aku ingin bercerita tentang
stasiun dan segudang kenangan didalamnya.
Kereta sebagai salah satu alat
transportasi massal yang cepat dan murah untuk mengantarkan penumpangnya ke tempat
tujuan. Cepat tidak terhambat oleh kemacetan yang biasanya terpotret di kota
besar, tidak terjebak dengan banyaknya kendaraan seperti motor maupun mobil.
Kereta yang membawa kenyamanan untuk
penumpangnya. Nyaman karena terbebas dari kemacetan, penumpang bebas untuk
beristirahat dalam waktu tertentu sampai tiba di stasiun pemberhentiannya dan tentunya
tidak membuat mabuk. Dari sinilah kita harus berterima kasih kepada William Murdoch, ilmuwan
inggris yang mencetuskan ide pertama kali dalam menemukan kereta api dan
ilmuwan-ilmuwan lain yang ikut menyempurnakan konsep awalnya seperti George Stephenson. Hingga kini kereta
api masih menjadi favorit dalam hal memilih transportasi yang cepat dan murah.
Masuk ke dalam cerita dan kenangannya. Waktuku
kecil, aku sangat senang ketika mudik dengan keluargaku menggunakan kereta api.
Mata belo berbinar-binar, penasaran kenapa kereta bisa berjalan cepat. Jika menaikinya
aku merengek ke orang tuaku agar aku bisa duduk di dekat jendela. Beranjak
dewasa, kereta api masih menjadi idolaku. Sampai aku SMA teman baikku Fajar Eko
Ryanto sangat menyukai kereta api hingga ia bermimpi membuat stasiun mewah
dilengkapi fasilitas lengkap didalamnya yang terukir ke dalam sketsa gambar. Menakjubkan
sketsa yang dibuatnya.
Aku yang kini menjalani rutinitasku sebagai
mahasiswa hidup di perantauan, tanah orang nan jauh berkilometer dari rumah
orang tuaku di Bekasi. Tinggal sebagai anak kostan dan bertitel mahasiswa
UNSOED, Purwokerto.
Tentunya transportasi yang aku suka
pilihanku jatuh ke kereta api. Dari sinilah ceritaku dimulai.
Sewaktu aku mau mudik ke Bekasi, aku
beruntung karena mempunyai ‘teman dekat’ yang baik hatinya, yang selalu
mengantarkan aku ke stasiun, menemaniku hingga kereta api yang akan aku naiki
itu tiba dan mengantarkan aku sampai kereta api itu membawaku menuju Bekasi.
Malam tentunya jadwal keberangkatan
kereta api. Yang aku suka di bagian ini, dia masih menemaniku dan tetap terjaga
sampai larut malam hingga pagi dini hari sampai aku benar-benar tiba di stasiun
Bekasi.
Aku yakin hal yang dia lakukan adalah
wujud bentuk kekhawatirannya. Dari awal hingga kini, dia masih melakukan itu
untukku. Namun, sayangnya aku baru menyadari hal tersebut sekarang. Mungkin aku
yang tidak peka terhadapnya.
Selain itu yang aku rasakan, dilematis. Perasaan
dilema yang muncul antara sedih ingin selalu di dekatnya dan senang karena akan
pulang dan berjumpa dengan keluarga. Banyak hal yang aku lewatkan dengannya
ketika sedang menunggu kereta api di stasiun. Seperti sharing di menit-menit
keberangkatan. Masih teringat jelas, aku dengannya yang baru ketemu hari itu
namun kembali dipisahkan oleh jarak. Dulu, aku masih berpikir jarak menjadi
suatu masalah dengannya namun aku abaikan dan menyikapinya dengan tenang. Karena
jarak yang telah membuat kita bersikap dewasa.
Sekian cerita dariku J
.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar