10/22/2013

Kereta Api

“Naik kereta api tuut.. tuut.. tuut..
Siapa hendak turun, ke Bandung, Surabaya, bolehkah naik dengan percuma…”
Petikan lagu yang sering didengarkan ketika kita masih kecil.

Kali ini aku ingin bercerita tentang stasiun dan segudang kenangan didalamnya.
Kereta sebagai salah satu alat transportasi massal yang cepat dan murah untuk mengantarkan penumpangnya ke tempat tujuan. Cepat tidak terhambat oleh kemacetan yang biasanya terpotret di kota besar, tidak terjebak dengan banyaknya kendaraan seperti motor maupun mobil.
Kereta yang membawa kenyamanan untuk penumpangnya. Nyaman karena terbebas dari kemacetan, penumpang bebas untuk beristirahat dalam waktu tertentu sampai tiba di stasiun pemberhentiannya dan tentunya tidak membuat mabuk. Dari sinilah kita harus berterima kasih kepada William Murdoch, ilmuwan inggris yang mencetuskan ide pertama kali dalam menemukan kereta api dan ilmuwan-ilmuwan lain yang ikut menyempurnakan konsep awalnya seperti George Stephenson. Hingga kini kereta api masih menjadi favorit dalam hal memilih transportasi yang cepat dan murah.

Masuk ke dalam cerita dan kenangannya. Waktuku kecil, aku sangat senang ketika mudik dengan keluargaku menggunakan kereta api. Mata belo berbinar-binar, penasaran kenapa kereta bisa berjalan cepat. Jika menaikinya aku merengek ke orang tuaku agar aku bisa duduk di dekat jendela. Beranjak dewasa, kereta api masih menjadi idolaku. Sampai aku SMA teman baikku Fajar Eko Ryanto sangat menyukai kereta api hingga ia bermimpi membuat stasiun mewah dilengkapi fasilitas lengkap didalamnya yang terukir ke dalam sketsa gambar. Menakjubkan sketsa yang dibuatnya.

Aku yang kini menjalani rutinitasku sebagai mahasiswa hidup di perantauan, tanah orang nan jauh berkilometer dari rumah orang tuaku di Bekasi. Tinggal sebagai anak kostan dan bertitel mahasiswa UNSOED, Purwokerto.
Tentunya transportasi yang aku suka pilihanku jatuh ke kereta api. Dari sinilah ceritaku dimulai. 

Sewaktu aku mau mudik ke Bekasi, aku beruntung karena mempunyai ‘teman dekat’ yang baik hatinya, yang selalu mengantarkan aku ke stasiun, menemaniku hingga kereta api yang akan aku naiki itu tiba dan mengantarkan aku sampai kereta api itu membawaku menuju Bekasi.
Malam tentunya jadwal keberangkatan kereta api. Yang aku suka di bagian ini, dia masih menemaniku dan tetap terjaga sampai larut malam hingga pagi dini hari sampai aku benar-benar tiba di stasiun Bekasi.
Aku yakin hal yang dia lakukan adalah wujud bentuk kekhawatirannya. Dari awal hingga kini, dia masih melakukan itu untukku. Namun, sayangnya aku baru menyadari hal tersebut sekarang. Mungkin aku yang tidak peka terhadapnya.
Selain itu yang aku rasakan, dilematis. Perasaan dilema yang muncul antara sedih ingin selalu di dekatnya dan senang karena akan pulang dan berjumpa dengan keluarga. Banyak hal yang aku lewatkan dengannya ketika sedang menunggu kereta api di stasiun. Seperti sharing di menit-menit keberangkatan. Masih teringat jelas, aku dengannya yang baru ketemu hari itu namun kembali dipisahkan oleh jarak. Dulu, aku masih berpikir jarak menjadi suatu masalah dengannya namun aku abaikan dan menyikapinya dengan tenang. Karena jarak yang telah membuat kita bersikap dewasa.

Sekian cerita dariku J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar